<aside> 📌
Keterkaitan Kerajaan Dharmasraya dengan Kerajaan Majapahit bermula dari gagasan Dwi Pantara (Raja Kertanegara) dari Kerajaan Singosari yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Kebo Anambrang terjadi pada abad ke-13.
</aside>
Tujuan Ekspedisi Pamalayu:
Kegiatan ekspedisi tersebut sebagai bentuk kegiatan konsolidasi politik (Jawa) dan menggalang kekuatan dari luar jawa, seperti Sumatera dan Campa (Vietnam) untuk mewujudkan hegemoni kerajaan di Asia Tenggara. Selain itu, juga bermuara pada penguasaan lautan dan monopoli perdagangan dimana wilayah tersebut dikenal dengan penghasil lada, dan ramai dikunjungi pedagang, khususnya di daerah Sungai Batang Hari dan Kampar Kiri-Kanan.

Arca Amoghapasa Sumber: BPCB Sumbar
Raja Kertanegara memberikan hadiah berupa tiruan Arca Amoghapasa dari Candi Jayaghu (Candi Jago, Malang) kepada Kerajaan Dharmasraya Raja Srimat Tribhuwanaja Mauliwarmadewa. Sebagai hadiah balasan, raja tersebut mempersembahkan kedua putrinya, yaitu Dara Petak dan Dara Jingga yang kemudian di bawa ke Jawa.
Ternyata telah jadi perubahan politik dimana Kerajaan Singosari telah diganti menjadi Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya sebagai raja pertama. Dara Petak kemudian menikah dengan Raden Wijaya, sedangkan Dara Jingga Menikah dengan Mentri Kerajaan Majapahit Rakyan Mahamantri Adwaya Brahmadewa yang melahirkan Adityawarman (Aji Mantrolot) (cucu Raja Srimat Tribhuwanaja Mauliwarmadewa).
Pada ahun 1332, Adityawarman Ke Sumatera dimana Raja Kerajaan Dharmasraya pada saat itu adalah Raja Akarendrawarman (Raja Ke-2 Kerajaan Dharmasraya). Pada tahun 1347, Adityawarman menjadi Raja Kerajaan Dharmasraya. Adityawarman memindahkan pusat kerajaan dari Dahrmasraya ke Pagaruyung sebagai upaya pemutusan hubungan dengan Kerajaan Majapahit.